Santri MA Miftahunnajah Sleman mengikuti kegiatan diskusi bertajuk “School of Thought: Kota dan Krisis Ekologi” bersama Anies Baswedan yang diselenggarakan di Ruang Literasi Kaliurang, pada Kamis, 11 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi ruang belajar penting bagi santri untuk memahami dinamika krisis ekologi perkotaan sekaligus mengkritisi berbagai kebijakan lingkungan yang pernah dijalankan di Jakarta.
Diskusi ini menghadirkan pemikiran dan pengalaman praktis terkait tantangan kota-kota besar dalam menghadapi krisis ekologi. Melalui forum ini, santri diajak untuk melihat isu lingkungan tidak hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai persoalan kebijakan publik, keadilan sosial, dan partisipasi warga.
Latar Belakang Kegiatan
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan krisis ekologis di wilayah perkotaan, seperti polusi udara, pengelolaan sampah, banjir, serta ketimpangan akses terhadap ruang hidup yang layak. Pelibatan santri MA Miftahunnajah Sleman bertujuan memperluas wawasan mereka mengenai bagaimana kota dapat dikelola secara berkelanjutan dan berkeadilan, sekaligus menjadi ruang pembelajaran kritis untuk menguji gagasan serta rekam jejak pembicara utama dalam isu lingkungan perkotaan.
Pokok Gagasan yang Dipelajari Santri
Dalam pemaparannya, Anies Baswedan menekankan pentingnya transformasi transportasi publik, pengendalian emisi, dan pembangunan kota yang berpihak pada keadilan lingkungan, khususnya bagi kelompok rentan. Santri mencermati bagaimana kolaborasi multipihak, partisipasi warga, serta reposisi kota sebagai aktor penting dalam menghadapi krisis iklim menjadi tema utama yang berulang dalam diskusi.
Pendekatan Studi Kritis Santri
Santri tidak hanya menerima gagasan secara normatif, tetapi juga melakukan studi kritis terhadap sejauh mana visi kota hijau dan berkeadilan tersebut terwujud dalam praktik saat Anies Baswedan memimpin Jakarta. Berbagai catatan publik turut dibahas, mulai dari kualitas udara Jakarta, efektivitas program transportasi publik dan bus listrik, hingga konsistensi kebijakan reklamasi dan penataan kampung kota. Melalui pendekatan ini, santri belajar membedakan antara narasi politik, kebijakan yang dirancang, dan dampak nyata di lapangan.
Penguatan Literasi Ekologi dan Kewargaan
Keterlibatan santri dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi ekologi, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran kewargaan sebagai generasi muda muslim yang hidup di tengah arus urbanisasi dan krisis iklim. Pengalaman berdialog dan mengkaji langsung gagasan serta capaian tokoh publik menjadi bekal penting bagi santri untuk merumuskan sikap, terlibat dalam inisiatif lingkungan di sekolah maupun masyarakat, serta mengembangkan perspektif yang lebih matang terhadap isu kota dan krisis ekologi di Indonesia.
MA Miftahunnajah Sleman


