• MA MIFTAHUNNAJAH SLEMAN
  • Qur'ani, Saintis, Berwawasan Lingkungan --- Never Ending To Grow---
  • ma.miftahunnajahsleman@gmail.com
  • 089508304238 / 0895392685122
  • RSS
  • Pencarian

Setiap Kelas Adalah Ruang Gagasan: FGD Jadi Budaya Berpikir Kritis di MA Miftahunnajah Sleman

SLEMAN, 08 Agustus 2026 — Pembelajaran di sekolah tidak semestinya berhenti pada aktivitas menyampaikan materi dari guru kepada siswa. Lebih jauh dari itu, proses pendidikan merupakan ruang untuk membentuk cara berpikir, membangun karakter, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, serta mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan secara bijaksana. Semangat inilah yang terus dikembangkan di MA Miftahunnajah Sleman, salah satunya melalui pembiasaan berpikir kritis dalam berbagai aktivitas pembelajaran.

Bagi MA Miftahunnajah Sleman, berpikir kritis bukan sekadar kemampuan akademik yang dibutuhkan siswa ketika mengerjakan soal. Berpikir kritis merupakan bagian dari keterampilan hidup yang perlu dibangun secara bertahap melalui pengalaman belajar sehari-hari. Siswa dibiasakan untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga bertanya, memahami persoalan, mencari hubungan sebab-akibat, membandingkan berbagai sudut pandang, menyampaikan argumentasi, serta mempertimbangkan bukti sebelum mengambil sebuah kesimpulan. Karena itu, ruang kelas diharapkan tidak hanya menjadi tempat guru menjelaskan dan siswa mencatat, tetapi menjadi ruang hidup tempat gagasan tumbuh dan diuji.

Salah satu bentuk pembelajaran yang mendukung budaya tersebut adalah Focus Group Discussion (FGD). Di MA Miftahunnajah Sleman, forum diskusi digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Melalui FGD, siswa tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai subjek yang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pemikiran, memberikan tanggapan, mempertanyakan sebuah gagasan, dan bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan yang diberikan.

Dengan demikian, FGD bukan lagi sesuatu yang asing bagi siswa MA Miftahunnajah Sleman. Diskusi menjadi salah satu bagian dari pengalaman belajar yang membantu membangun kebiasaan berpikir. Siswa dilatih untuk memahami bahwa perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Justru melalui perbedaan perspektif, sebuah persoalan dapat dilihat dengan lebih luas dan mendalam. Mereka belajar bahwa sebuah pendapat akan menjadi lebih kuat apabila disertai alasan yang jelas, bukti yang relevan, dan kemampuan untuk mempertanggungjawabkannya.

Kewirausahaan: Belajar Membaca Masyarakat dan Menemukan Peluang

Budaya tersebut salah satunya tampak dalam kegiatan KBM Mata Pelajaran Kewirausahaan bersama Ustadz Brigade Izzudin Al-Qasam, S.H. Dalam pembelajaran ini, siswa tidak hanya diajak memahami konsep kewirausahaan secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk melihat realitas yang ada di masyarakat. Mereka diajak memperhatikan berbagai kebutuhan, persoalan, perubahan perilaku, serta peluang yang muncul dalam kehidupan sehari-hari untuk kemudian dianalisis dan dibahas melalui forum diskusi.

Pendekatan seperti ini membuat pembelajaran kewirausahaan menjadi lebih dekat dengan kehidupan siswa. Ketika siswa diminta mengamati sebuah fenomena di masyarakat, mereka kemudian diajak untuk mengajukan pertanyaan: Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa hal tersebut terjadi? Siapa yang membutuhkan solusi? Apa kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi? Apa peluang yang dapat dikembangkan? Dan solusi seperti apa yang mungkin ditawarkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan analisis sekaligus membangun kepekaan terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Dalam forum FGD, satu kelompok dapat memiliki pandangan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Ada siswa yang melihat sebuah persoalan dari sisi ekonomi, sementara siswa lain melihatnya dari sisi sosial, teknologi, lingkungan, atau kebutuhan masyarakat. Perbedaan tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan yang menarik karena siswa belajar bahwa sebuah persoalan tidak selalu memiliki satu jawaban yang sederhana. Mereka harus mendengarkan, mempertimbangkan, memberikan alasan, kemudian menyusun kesimpulan berdasarkan hasil pembahasan bersama.

Proses seperti inilah yang membuat pembelajaran kewirausahaan tidak berhenti pada pertanyaan “produk apa yang bisa dijual?”, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu “masalah apa yang dapat diselesaikan melalui sebuah produk atau layanan?” Cara berpikir tersebut penting karena kewirausahaan pada dasarnya membutuhkan kemampuan untuk membaca kebutuhan, melihat perubahan, menemukan peluang, serta menciptakan solusi yang memiliki nilai bagi masyarakat.


(Siswa menyetorkan hasil diskusi mereka kepada pembimbing)

Dari Siswa yang Mendengar Menjadi Siswa yang Berpikir

Pembelajaran berbasis diskusi memberikan perubahan pada posisi siswa di dalam kelas. Jika dalam pembelajaran konvensional siswa lebih banyak berada pada posisi menerima penjelasan, maka melalui diskusi siswa memperoleh kesempatan lebih besar untuk mengolah informasi dan membangun pemahamannya sendiri. Guru tetap memiliki peran penting, tetapi perannya berkembang menjadi fasilitator yang mengarahkan pertanyaan, memberikan stimulus, meluruskan konsep, serta memastikan diskusi berjalan pada jalur pembelajaran yang telah dirancang.

Dalam forum tersebut, siswa juga belajar bahwa menyampaikan pendapat bukan sekadar berbicara. Mereka perlu memiliki alasan yang mendukung pendapat tersebut. Ketika ada pendapat yang berbeda, mereka belajar memberikan tanggapan dengan argumentasi, bukan sekadar mengatakan benar atau salah. Dari proses sederhana tersebut, kemampuan mendengarkan secara aktif, menginterpretasikan informasi, menganalisis argumen, mengevaluasi gagasan, dan menyusun kesimpulan mulai dibangun.

Budaya seperti ini sangat penting di tengah derasnya arus informasi. Peserta didik hidup dalam lingkungan yang memungkinkan mereka menerima begitu banyak informasi dari berbagai sumber. Karena itu, kemampuan menghafal informasi saja tidak cukup. Mereka membutuhkan kemampuan untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dan yang perlu dipertanyakan, memahami konteks sebuah informasi, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang rasional dan bertanggung jawab.

Penelitian Mendukung Pentingnya Diskusi dalam Pengembangan Berpikir Kritis

Praktik pembelajaran melalui diskusi juga memiliki landasan dari berbagai penelitian pendidikan. Wijaya, Warman, Suryaningsi, Hardoko, Jamil, dan Majid (2024) secara khusus mengkaji kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis melalui metode Focus Group Discussion (FGD) pada pembelajaran PKn kelas X SMA Negeri 4 Samarinda. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa FGD memberikan ruang kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, mengemukakan pendapat, mempertimbangkan perspektif yang berbeda, dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa FGD dapat menjadi salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Penelitian Musoffa, Anggraeni, dan Citraningrum (2025) juga memberikan gambaran mengenai hubungan pembelajaran diskusi kelompok dengan kemampuan berpikir kritis. Dalam penelitian tersebut, pembelajaran diskusi kelompok diterapkan dalam konteks kemampuan menulis esai dan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pada kelompok yang mendapatkan pembelajaran diskusi, dengan nilai rata-rata yang meningkat dari 77,5 menjadi 91,3. Temuan tersebut menunjukkan bahwa diskusi yang dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan kemampuan berpikir kritis dalam konteks pembelajaran yang diteliti.

Sementara itu, penelitian Hajhosseiny (2012) mengenai dialogic teaching menunjukkan bahwa pembelajaran yang memberikan ruang bagi dialog, diskusi kelompok, dan dialog Socratic dapat berkaitan dengan perkembangan disposisi berpikir kritis. Penelitian tersebut memperlihatkan pentingnya lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengemukakan gagasan, mempertanyakan asumsi, mendengarkan perspektif lain, dan merefleksikan pemikirannya sendiri.

Temuan-temuan tersebut tentu tidak berarti bahwa FGD secara otomatis membuat setiap siswa menjadi berpikir kritis. Efektivitas diskusi sangat bergantung pada bagaimana forum tersebut dirancang dan difasilitasi. Pertanyaan yang diberikan harus mendorong analisis, siswa perlu memiliki kesempatan yang cukup untuk berbicara dan menanggapi, guru perlu menjaga agar diskusi tetap terarah, dan proses pembelajaran perlu diakhiri dengan refleksi atau kesimpulan. Dengan demikian, FGD menjadi efektif bukan karena sekadar siswa duduk berkelompok, melainkan karena di dalamnya terjadi proses bertanya, menganalisis, berdialog, mengevaluasi, dan menyusun pemahaman.

Selaras dengan Visi: Generasi Qur’ani yang Unggul dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pembiasaan berpikir kritis melalui FGD memiliki keterkaitan yang kuat dengan visi MA Miftahunnajah Sleman, yaitu:

“Terwujudnya generasi qur’ani, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta berwawasan lingkungan menuju insan rahmatan lil 'alamin.”

Visi tersebut menunjukkan bahwa keunggulan yang ingin dibangun bukan hanya keunggulan akademik, tetapi sebuah integrasi antara nilai-nilai Qur’ani, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepedulian terhadap lingkungan, serta karakter yang membawa kemaslahatan bagi kehidupan.

Dalam konteks tersebut, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu bekal penting. Generasi Qur’ani tidak hanya diharapkan memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu menggunakan akal secara bertanggung jawab untuk memahami kehidupan. Sementara itu, generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan kemampuan untuk menganalisis informasi, memahami persoalan, melakukan evaluasi, dan menghasilkan gagasan baru. Adapun orientasi menuju insan rahmatan lil 'alamin menuntut agar ilmu dan kemampuan yang dimiliki tidak berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi diarahkan untuk menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Karena itu, ketika siswa diajak melihat persoalan masyarakat melalui pembelajaran kewirausahaan, berdiskusi mengenai kebutuhan lingkungan sekitar, kemudian merumuskan kemungkinan solusi, sesungguhnya kegiatan tersebut merupakan bagian kecil dari upaya mewujudkan visi madrasah. Siswa tidak hanya belajar “menjadi pintar”, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan kepintaran tersebut untuk membaca realitas dan memberikan manfaat.

Misi Pertama: Mengembangkan Qolbiyah, Aqliyah, dan Jasadiyah

Budaya pembelajaran aktif di MA Miftahunnajah Sleman juga sejalan dengan misi pertama, yaitu “Menyelenggarakan program pendidikan secara komprehensif dalam aspek qolbiyah, aqliyah dan jasadiyah untuk mendukung peningkatan kualitas individu yang Qur’ani.”

FGD secara khusus memberikan ruang yang kuat pada aspek aqliyah, karena siswa diajak menggunakan kemampuan berpikir untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menemukan solusi. Namun, proses tersebut tetap berada dalam ekosistem pendidikan yang lebih luas, di mana kemampuan intelektual tidak dipisahkan dari pembentukan karakter dan nilai.

Dalam sebuah diskusi, siswa belajar bagaimana menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, menghargai orang lain ketika berbicara, menerima perbedaan, dan tidak memaksakan pandangannya kepada orang lain. Nilai-nilai tersebut menjadi penting karena kecerdasan intelektual tanpa karakter dapat kehilangan arah. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan berpikir diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan pribadi yang memiliki adab, tanggung jawab, dan kesadaran untuk menggunakan ilmunya secara tepat.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak sekadar menghasilkan siswa yang mampu berargumentasi, tetapi juga siswa yang memahami bahwa cara menyampaikan pendapat sama pentingnya dengan isi pendapat itu sendiri. Inilah salah satu bentuk integrasi antara kemampuan berpikir dan pembentukan pribadi yang menjadi bagian dari pendidikan di madrasah.

Misi Kedua: Active Learning, Deep Thinking, dan Problem Solving

Jika dikaitkan dengan misi kedua, praktik FGD dalam pembelajaran bahkan memiliki hubungan yang sangat langsung. MA Miftahunnajah Sleman secara eksplisit menargetkan terwujudnya pengajaran berbasis active learning, deep thinking, dan problem solving dengan perangkat pendidikan yang lengkap, mutakhir, dan berwawasan global.

FGD merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan ruang bagi active learning karena siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Mereka membaca persoalan, mengemukakan gagasan, bertanya, memberikan tanggapan, menyusun argumentasi, dan mengambil kesimpulan. Siswa menjadi bagian aktif dari proses pembelajaran, sementara guru berperan mengarahkan agar aktivitas tersebut tetap mencapai tujuan pembelajaran.

Pada saat yang sama, pembahasan persoalan nyata mendorong deep thinking. Siswa tidak cukup menjawab pertanyaan pada tingkat permukaan, tetapi perlu menggali lebih jauh mengenai penyebab sebuah persoalan, dampaknya, pihak-pihak yang terlibat, alternatif solusi, hingga kemungkinan konsekuensi dari solusi yang ditawarkan. Proses tersebut membuat pembelajaran bergerak dari sekadar mengetahui menuju memahami dan menganalisis.

Kemudian, ketika siswa diminta mencari solusi atas persoalan yang ditemukan di masyarakat, proses tersebut masuk pada aspek problem solving. Mereka belajar bahwa sebuah masalah tidak selalu dapat diselesaikan dengan satu jawaban. Diperlukan proses identifikasi masalah, pengumpulan informasi, diskusi, pertimbangan berbagai alternatif, pengambilan keputusan, dan evaluasi terhadap solusi yang dipilih.

Ketiga unsur tersebut—active learning, deep thinking, dan problem solving—menjadi semakin relevan ketika diterapkan pada Mata Pelajaran Kewirausahaan. Dunia kewirausahaan pada hakikatnya merupakan dunia yang penuh dengan persoalan dan ketidakpastian. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk tidak takut menghadapi masalah, tetapi justru mampu melihat masalah sebagai bagian dari proses menemukan peluang dan menciptakan solusi.

Misi Ketiga: Membangun Lingkungan Belajar yang Aktif dan Berkesinambungan

Budaya FGD juga memiliki kaitan dengan misi ketiga MA Miftahunnajah Sleman, yaitu “Mewujudkan lingkungan dan iklim pendidikan yang mendukung peningkatan kualitas individu secara aktif dan berkesinambungan.”

Budaya berpikir kritis tidak dapat dibangun hanya melalui satu mata pelajaran atau satu kegiatan. Ia membutuhkan lingkungan pendidikan yang secara konsisten memberikan ruang kepada siswa untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, melakukan kesalahan, memperbaiki pemahaman, dan mencoba kembali. Karena itu, FGD dapat dipandang bukan sekadar sebuah teknik pembelajaran, tetapi sebagai salah satu bagian dari upaya menciptakan iklim pendidikan yang memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang.

Ketika siswa terbiasa menemukan ruang diskusi dalam berbagai kegiatan pembelajaran, mereka secara perlahan akan memahami bahwa bertanya bukan berarti tidak tahu, berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan, dan melakukan kesalahan bukan berarti gagal. Semua itu merupakan bagian dari proses belajar. Lingkungan seperti inilah yang dibutuhkan untuk membentuk peserta didik yang aktif dan terus berkembang.

Pembiasaan yang konsisten juga memungkinkan kemampuan berpikir siswa berkembang secara bertahap. Siswa yang pada awalnya masih ragu menyampaikan pendapat dapat mulai berani berbicara. Siswa yang sebelumnya hanya memberikan jawaban singkat dapat mulai belajar menjelaskan alasan. Siswa yang awalnya hanya melihat persoalan dari satu sudut pandang dapat mulai belajar mempertimbangkan perspektif yang lain.

Membaca Masalah, Menemukan Peluang, Menghadirkan Solusi

Kembali pada pembelajaran Kewirausahaan bersama Ustadz Brigade Izzudin Al-Qasam, S.H., proses tersebut menjadi contoh bagaimana pembelajaran dapat diarahkan untuk menghubungkan teori dengan realitas.

Siswa diajak memahami bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut melahirkan kebutuhan baru, persoalan baru, sekaligus peluang baru. Seorang wirausahawan perlu memiliki kepekaan untuk membaca perubahan tersebut. Namun sebelum menemukan peluang, seseorang harus mampu memahami persoalan yang ada secara mendalam.

Karena itu, pertanyaan dalam pembelajaran tidak berhenti pada “apa yang bisa dijual?”, tetapi bergerak menuju “apa yang dibutuhkan masyarakat?” Dari kebutuhan tersebut kemudian muncul pertanyaan berikutnya: “Bagaimana kita dapat menghadirkan solusi?” Cara berpikir semacam ini mendorong siswa untuk melihat kewirausahaan sebagai aktivitas menciptakan nilai dan memberikan manfaat, bukan semata-mata mengejar keuntungan.

Di sinilah pendidikan kewirausahaan bertemu dengan cita-cita madrasah untuk melahirkan insan rahmatan lil 'alamin. Sebuah usaha yang lahir dari kemampuan membaca kebutuhan masyarakat dan menghadirkan solusi yang bermanfaat memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Siswa belajar bahwa ilmu, kreativitas, teknologi, dan kemampuan berpikir yang mereka miliki dapat digunakan untuk menghadirkan kemanfaatan bagi orang lain.

Menyiapkan Siswa Menghadapi Dunia yang Terus Berubah

Perubahan dunia pendidikan, teknologi, dan masyarakat berlangsung begitu cepat. Jenis pekerjaan berubah, teknologi berkembang, informasi semakin mudah diperoleh, dan berbagai persoalan baru terus bermunculan. Dalam kondisi seperti itu, pendidikan tidak cukup hanya membekali siswa dengan jawaban atas persoalan yang sudah ada. Pendidikan juga harus membekali mereka dengan kemampuan untuk menghadapi persoalan yang bahkan belum muncul hari ini.

Karena itu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah menjadi semakin penting. Siswa perlu belajar bagaimana belajar, bukan hanya belajar apa yang harus diketahui. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk mencari informasi, mempertanyakan informasi, menghubungkan berbagai pengetahuan, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan.

Pembiasaan FGD menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat mendukung proses tersebut. Di dalamnya siswa belajar berbicara dan mendengarkan. Mereka belajar menyampaikan dan menerima kritik. Mereka belajar mempertahankan argumen sekaligus belajar mengubah pendapat ketika menemukan alasan yang lebih kuat. Mereka belajar bahwa mencari kebenaran dan solusi terkadang membutuhkan proses yang panjang dan tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama bagi setiap orang.

Dari Ruang Kelas untuk Masyarakat

Pada akhirnya, tujuan pembelajaran tidak berhenti di dalam ruang kelas. Pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan dapat dibawa ke kehidupan nyata.

Ketika siswa mampu mengamati persoalan di lingkungan sekitar, mendiskusikannya, menganalisis penyebabnya, kemudian memikirkan solusi, mereka sedang belajar menjadi bagian dari masyarakat yang mampu memberikan kontribusi. Ketika mereka mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan, mereka sedang bergerak menuju keunggulan yang diharapkan oleh madrasah. Dan ketika seluruh kemampuan tersebut diarahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, mereka sedang mendekati cita-cita menjadi insan rahmatan lil 'alamin.

Maka, FGD di MA Miftahunnajah Sleman bukan sekadar tentang siswa yang duduk melingkar dan berdiskusi. Di balik aktivitas tersebut terdapat proses pendidikan yang lebih besar: membangun keberanian berpikir, kemampuan berdialog, kecakapan menganalisis, keterampilan memecahkan masalah, serta kesadaran untuk menggunakan ilmu bagi kemanfaatan.

Sebab dari sebuah pertanyaan sederhana dapat lahir sebuah gagasan. Dari sebuah gagasan dapat lahir sebuah solusi. Dan dari sebuah solusi yang memberikan manfaat, dapat tumbuh kontribusi nyata bagi masyarakat.

Setiap kelas adalah ruang gagasan. Setiap diskusi adalah latihan berpikir. Dan setiap siswa adalah potensi yang sedang dipersiapkan untuk menghadapi masa depan.


Referensi Penelitian

Asrita, & Nurhilza. (2018). Students’ Critical Thinking Skills in Group Discussion: The Case Study of Fifth Grade Students in Sukma Bangsa Bireuen Elementary School. SUKMA: Jurnal Pendidikan, 2(1). https://doi.org/10.32533/02103.2018.

Hajhosseiny, M. (2012). The effect of dialogic teaching on students’ critical thinking disposition. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 69, 1358–1368. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.12.073.

Musoffa, L., Anggraeni, A. W., & Citraningrum, D. M. (2025). The effect of group discussion learning on improving students' critical thinking skills in essay writing. Journal of Educational Sciences, 9(6), 6009–6020. https://doi.org/10.31258/jes.9.6.p.6009-6020.

Wijaya, N. A. F., Warman, W., Suryaningsi, S., Hardoko, A., Jamil, J., & Majid, N. (2024). Analisis kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis melalui metode Focus Group Discussion (FGD) oleh guru pada pembelajaran PKn di kelas X SMA Negeri 4 Samarinda. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 3(4), 375–384. https://doi.org/10.55681/seikat.v3i4.1420.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Satukan Semangat, Tebarkan Inspirasi! Dewan Ambalan MA Miftahunnajah Sleman Perkuat Persaudaraan Pramuka Melalui Anjangsana Ke SMA IT Baitussalam Prambanan

Sleman, 1 Agustus 2026 – Semangat persaudaraan dan kolaborasi antaranggota Gerakan Pramuka kembali diwujudkan oleh Dewan Ambalan Diponegoro dan Dewan Ambalan Malahayati Pangkalan

03/08/2026 14:45 - Oleh Administrator - Dilihat 109 kali
Generasi Qur'ani Kembali Bersinar! Kontingen Putri MA Miftahunnajah Sleman Tembus Juara Umum II Perkemahan Daerah BSMR Tingkat Provinsi DIY 2026, Harumkan Nama Madrasah

SLEMAN, 1 Agustus 2026 – Alhamdulillāhirabbil 'ālamīn. Prestasi membanggakan kembali dipersembahkan oleh peserta didik MA Miftahunnajah Sleman. Dalam ajang Perkemahan Daerah Bu

03/08/2026 10:21 - Oleh Administrator - Dilihat 113 kali
Ribuan Inspirasi dari Satu Talkshow! Siswa MA Miftahunnajah Sleman Padati Forum, Pakar UGM Siap Dampingi Pembinaan Kesehatan Secara Berkelanjutan

Sleman, 1 Agustus 2026 – Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai pelaksanaan Talkshow Kesehatan yang diselenggarakan oleh OSIS MA Miftahunnajah Sleman pada Sabtu (1/8). Keg

03/08/2026 10:15 - Oleh Administrator - Dilihat 53 kali
UGM Edukasi tentang Pola Hidup Sehat di MA Miftahunnajah Sleman

Pada Jumat, 17 Juli 2026, Tim Pengabmas PKGM melaksanakan kegiatan Edukasi tentang Pola Hidup Bersih & Sehat (PHBS) yang diikuti oleh siswa baru kelas X MA Miftahunnajah Sleman. H

31/07/2026 13:53 - Oleh Administrator - Dilihat 46 kali
Menginspirasi Puluhan Pelajar DIY! OSIS MA Miftahunnajah Sleman Gandeng Ruang Literasi Kaliurang dan Better Youth Cetak Agen Perubahan Muda

OSIS MA Miftahunnajah Sleman Berkolaborasi dengan Ruang Literasi Kaliurang dan Better Youth Gelar Seminar "Waktunya Ikut Bersuara: The Power of Youth" Sleman, 26 Juli 2026 – Sema

30/07/2026 06:26 - Oleh Administrator - Dilihat 145 kali
Belajar Hari Ini, Menuai Kesuksesan Esok

Setiap langkah kecil dalam menuntut ilmu adalah investasi untuk masa depan. Belajar bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga membentuk karakter, melatih kedisiplin

29/07/2026 14:39 - Oleh Administrator - Dilihat 41 kali
BAZNAS Kabupaten Sleman Tinjau Perkembangan Program Kemandirian Ekonomi di MA Miftahunnajah Sleman

Sleman, 21 Juli 2026 – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sleman melaksanakan kunjungan dan monitoring ke Pondok Pesantren Modern Miftahunnajah Sleman, khususnya jenja

22/07/2026 14:00 - Oleh Administrator - Dilihat 72 kali
Dokumentasi MATAMUDA ( Masa Ta'aruf Murid Madrasah ) MA Miftahunnajah Sleman

Rangkain kegiatan MATAMUDA 12-15 Juli 2026 di MA Miftahunnajah Sleman alhamdulillah berjalan dengan lancar. Berikut foto-foto kegiatannya.         

22/07/2026 11:44 - Oleh Administrator - Dilihat 77 kali
Ridho dan Syukur kepada Allah SWT, Tema Apel Pekanan Santri MA Miftahunnajah Sleman

Sleman, 20 Juli 2026 – MA Miftahunnajah Sleman kembali melaksanakan Apel Pekanan Santri pada Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh santri dan asatidz ini menghad

20/07/2026 23:02 - Oleh Administrator - Dilihat 160 kali
LAGI DAN LAGI...!!! : Alumni MA Miftahunnajah Sleman Kembali Ukir Prestasi Gemilang, Kini Ulil Abshar Raih Juara 2 Garuda Hack 7.0 Tingkat Nasional

Sleman, 19 Juli 2026 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh alumni MA Miftahunnajah Sleman di tingkat nasional. Setelah sebelumnya Aldino Diru Sasongko berhasil mengharum

19/07/2026 09:01 - Oleh Administrator - Dilihat 153 kali