• MA MIFTAHUNNAJAH SLEMAN
  • Qur'ani, Saintis, Berwawasan Lingkungan --- Never Ending To Grow---
  • ma.miftahunnajahsleman@gmail.com
  • 089508304238 / 0895392685122
  • RSS
  • Pencarian

Mengenal Allah: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Kajian Ahad Pagi – MA Miftahunnajah
Bersama: Ust. Ir. Muhammad Ridwan Andi Purnomo, S.T., M.Sc.,Ph.D., IPM..


1. Mengenal Allah Sebelum Segala Sesuatu

Betapa pentingnya mengenal Allah, hingga Allah menempatkan perintah ini sebelum kewajiban syariat-Nya. Firman Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah." (QS. Muhammad: 19)

Kenal kepada Allah lebih penting daripada sekadar mengucapkan Laa ilaaha illallah. Sebab, ucapan itu akan bermakna ketika hati benar-benar mengenal dan meyakini siapa Allah.


2. Buah dari Mengenal Allah

Ketika kita mengenal Allah, kita sadar bahwa semua ibadah—infak, sedekah, shalat, dan lainnya—adalah kebutuhan kita sendiri, bukan kebutuhan Allah. Kita pun terdorong untuk memohon ampun kepada-Nya, serta mendoakan ampunan bagi orang-orang di sekitar kita.

Sebaliknya, jika kita tidak mengenal Allah, mustahil kita mau bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya.


3. Allah, Rabb Semesta Alam

Allah berfirman:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ
"Rabb langit dan bumi, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya." (QS. Maryam: 65)

Sebelum beribadah, kita harus menyadari bahwa Allah adalah Rabb seluruh alam. Tugas orang tua pun bukan membuat anak bergantung kepada dirinya, tetapi menanamkan agar anak bergantung hanya kepada Allah.


4. Kekhawatiran yang Menipu

Sering kali yang membuat kita zalim adalah kekhawatiran akan rezeki. Padahal Allah telah menegaskan:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya." (QS. Hud: 6)

Seluruh rezeki yang kita terima adalah murni karunia Allah, bukan semata hasil usaha kita. Merasa bahwa keberhasilan adalah murni hasil kerja kita merupakan bentuk kezaliman hati.


5. Mengingat Penciptaan

Allah mengingatkan:

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ، أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ
"Maka terangkanlah kepadaku tentang (air mani) yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya atau Kami?" (QS. Al-Waqi‘ah: 58–59)

Kesadaran ini menumbuhkan tawakal—yang harus ada di awal, tengah, dan akhir setiap usaha.


6. Kekuatan Tawakal

Allah berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ
"Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkan kamu." (QS. Ali Imran: 160)

Saat membaca ihdinash-shiraathal mustaqim, kita mengakui bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Sabar dan shalat akan mendatangkan pertolongan Allah, sedangkan tanpa sabar dan syukur, kita akan ditinggalkan oleh-Nya.


7. Shalat dan Ketentraman Hati

Ketika shalat tanpa thuma’ninah, itu tanda hati kita belum benar-benar tentram kepada Allah. Kisah Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi: 10) menjadi pelajaran bahwa tawakal harus hadir sejak awal langkah.

Allah juga melarang kita menggantungkan diri kepada makhluk yang tak mampu memberi manfaat atau mudarat (QS. Yunus: 106).


8. Menjaga Kemurnian Ketaatan

Jika kita masih meyakini bahwa manusia—atasan, tokoh, atau pihak tertentu—memiliki kuasa mutlak, kita akan sulit mengatakan bahwa yang hak itu hak dan yang batil itu batil. Selama perintah manusia selaras dengan perintah Allah, kita wajib taati. Jika tidak, ketaatan hanya untuk Allah.

Manusia memang cenderung menjadi “hamba kebaikan” (an-naasu ‘abidu al-ihsaan)—yaitu menghamba kepada orang yang memberinya kebaikan. Padahal, jika kita yakin bahwa segala kebaikan datang dari Allah, maka kita hanya akan menghamba kepada-Nya.


9. Buah Kebersihan Hati dari Kezaliman

Allah berfirman:

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
"Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri." (QS. Luqman: 12)

Orang yang membersihkan diri dari kezaliman hati akan menjadi orang yang merdeka. Inilah janji Allah:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan petunjuk." (QS. Al-An‘am: 82)


10. Kemerdekaan Hakiki

Kemerdekaan sejati bukanlah terbebas dari penjajahan manusia, melainkan bebas dari perbudakan hati kepada selain Allah. Mari raih kemerdekaan hakiki dengan menghamba hanya kepada-Nya, menggantungkan segala harapan, rasa takut, dan syukur kita hanya kepada Allah semat

 

#Admin MA MN

Komentari Tulisan Ini